Friday, April 24, 2009

Be GrateFul ^____^V

Jumat sore yang hujan di kota hujan memang sudah sering saya alami. Apalagi dengan ekstra petir yang bersahut-sahutan saling menyapa, kayanya mereka sudah lama tidak berjumpa, saking menggelegarnya dan tak henti-hentinya tu petir. Pukul 16.00 sore saya selesai ujian Analisis Teks Media Praktikum (ujian yang paling menyebalkan sedunia), di luar langsung disambut awan yang gelap. Wah, saya lupa membawa payung apalagi siangnya panas, enath kenapa bisa gelap seperti itu.

Sebelum pulang, saya harus bertemu teman saya di warnet dekat kampus, dan pastinya tidak bisa ditunda. 15 menit lebih saya di sana, bukan ngenet, tapi diskusi magang (hal ini selalu buat pusing). Saya akhirnya pulang, di tengah jalan, saya bertemu dengan dua teman dekat saya, setelah dihasut akhirnya saya pun ikut mereka pergi membeli cireng (makanan gorengan yang kenyal dan di dalamnya ada berbagai macam isi : kornet, ayam, keju,dsb). Setelah itu barulah kami pulang, sampai di tempat foto copy kami pun berhenti lagi melihat banyak teman-teman yang nongkrong di sana. Ternyata mereka sedang menunggu foto copy bahan untuk ujian selanjutnya. Saya pun akhirnya ikut.

Angin mulai menyusul awan gelap. Setelah menerima bahan ujian, saya lalu memisahkan diri dengan teman-teman yang lain dan langsung naik angkot 09. Petir mulai berdatangan, dan begitu terasa dekat, guntur pun menyusul dengan teriakannya yang lebih kuat dibanding vokalis Serius band. Tiap kali petir dan guntur bercengkerama, semua orang di angkot langsung menyebutkan Tuhan masing-masing. Sampai di tengah jalan, yang ditunggu-tunggu pun datang juga, hujan. Begitu derasnya hujan, saya sampai tidak bisa melihat apa-apa. Wah gawat saya sendiri tidak membawa payung, pikir saya.

Di sepanjang jalan, beramai-ramai anak-anak kecil berlari membawa payung mengejar tiap angkot. Saat orang lain mengkerutkan wajah karena hujan, akan tetapi wajah anak-anak ini begitu berseri-seri saat hujan datang. Ojeg payung adalah sapaan bagi mereka. Pakaiannya Cuma selapis dan sangat tipis. Dengan kaki kosong tak beralaskan apapun, mereka berlari kesana dan kemari mencari orang buat diantarkan dengan payungnya. Mulai dari rambut sampai kaki, tak ada yang kering, semuanya basah. Saat orang menggunakan payung mereka, mereka berjalan di belakang tanpa payung. Dan berjam-jam mereka terus berada dalam kondisi seperti itu.

Saat saya mengatakan ”kiri pak”, angkot pun perlahan-lahan menghentikan larinya tepat di depan salah satu swalayan yang bernama swalayan Ada. Seorang ojeg payung pun datang menghampiri angkot yang saya naiki. Syukurlah pikir saya. Saya lalu nebeng bersama si tukang ojeg payung itu. Setelah membayar angkot dengan Rp.2000 (setelah BBM turun), saya meminta si ojeg payung mengantarkan saya ke Swalayan Ada (namanya memang Swalayan Ada), tidak jauh dari tempat saya turun angkot. Di sana sudah ada seseorang yang menunggu saya (selalu tiap harinya, makasi yah buat dia), dari kejauhan pun saya sudah melihat dia. Tepat di tangga swalayan tersebut, saya lalu memberikan Rp.1000 kepada si tukang ojeg tak lupa juga terima kasih padanya.

Saya dan B’ (seseorang yang dari tadi menunggu saya) lalu duduk sejenak di tangga swalayan tersebut, menunggu hujan sedikir mereda, yah kebetulan sama-sama tidak membawa payung dan untungnya B’ memberikan jaket untuk saya. Kami melihat dengan diam banyaknya ojeg payung yang berada di depan swalayan itu, berharap ada yang menggunakan jasanya. ”wah, hebat sekali mereka, berdiri berjam-jam dengan kondisi yang basah kuyup, saya saja masih kedinginan”, ujar B’ memecahkan keheningan di antara kami berdua. Benar juga kata B’, saya saja mulai tidak enak badan, padahal hanya basah sedikit dibanding mereka. Kalau dipikir-pikir sayang juga, uang yang mereka hasilkan hanya untuk membeli obat pilek. Atau mereka memang kebal yah?

Perut saya juga tak kalah ikut berteriak. Saya pun sadar dari pagi saya belum menyentuh yang namanya makan nasi. Setelah hujan mulai reda, saya dan B’ pun beranjak ke McD yang tidak begitu jauh dari swalayan Ada. Setelah memesan 2 ayam goreng plus nasi, kentang dan lemon ice, kami pun duduk. Saking laparnya, kami berdua lupa mencuci tangan, langsung melahap ayam tersebut dengan saos yang banyak.

Sambil bercerita, tertawa, kami mulai menghabiskan perlahan-lahan makanan di meja kami. Di luar masih gerimis. Dari kejauhan saya masih melihat beberapa ojek payung berdiri di luar McD.
McD menyediakan tempat tersendiri langsung di pinggir emperannya bagi yang ingin memesan ice crem atau minuman dingin lainnya. Jadi tidak perlu masuk ke dalam kalau ingin memesan ice cream. Saya dan B’ lalu melihat kejadian yang unik menurut kami. Seorang ojeg payung yang masih anak-anak menghampiri tempat menjual ice cream tersebut. Dan si pelayan dengan ramah melayani anak itu. Anak itu membeli 2 ice cone masing-masing harganya Rp.1500 (kalau saya tidak salah ingat).

Saat dia menunggu si pelayan membuatkan ice untuknya, dia mencuri-curi pandang kepada temannya dan tersenyum. Saat ice berada di tangannya, diberikan salah satu ice cream itu kepada temannya. Mereka pun tertawa dan melihat ice itu. Dengan tidak sabar melahapnya, rasanya dunia hanya milik mereka.

”Kita tidak pernah bisa merasakan ice cream seperti mereka.”, kata B’. Yah, memang benar. Tiap hari kita mampu membeli ice tersebut. Tapi perasaan bahagia saat mendapat ice seperti anak-anak ojeg payung tidak bisa kita dapatkan. Mungkin kita pernah merasakan bahagianya saat masih kecil diberikan ice cream oleh orang tua kita. Tapi itu tidak sebanding dengan uang hasil sendiri yang dibelanjakan 2 anak kecil untuk membeli 2 buah ice cream.

Si pelayan yang melayani mereka kemudian berkata pada temannya ”mereka senang sekali, jadinya kasihan”. Semua orang yang melihat pasti merasa seperti itu. Tapi kalau saya pikir-pikir, mereka sendiri mungkin tidak merasa perlu dikasihani orang lain. Karena mereka bahagia. Orang-orang seperti merekalah yang tau cara yang benar untuk berbahagia dan selalu berbahagia dengan hal-hal yang kecil. Setelah menyelesaikan makanan kami, kami pun pulang dengan tersenyum. Memetik pelajaran dari hari ini, bersyukurlah mulai dari hal yang terkecil.

0 comments: